Minggu, 23 Agustus 2009

KODE ETIK DAKWAH DI INTERNET

Disampaikan pada

WORKSHOP Gerakan Internet Sehat & Pelatihan Citizen Journalism

Bandung, 11 – 13 Agustus 2009

Oleh : Ir. H. Chriswanto Santoso, M.Sc.


PENDAHULUAN

Apabila dua orang manusia bercakap-cakap maka ada semacam ruang tiga dimensi di antara keduanya. Saat percakapan itu terjadi di telepon dan keduanya tak saling bertatap muka makaruang yang tercipta tidak lagi tiga dimensi. Yang terjadi di internet adalah komunikasi antar banyak orang yang tersebar di berbagai tempat yang secara fisik tidak diketahui pasti lokasinya maka ruang itu pun semakin abstrak atau maya. Itulah sebabnya William Gibson,seorang penulis fiksi ilmiah, menyebut internet sebagai cyberspace atau dunia maya. Layaknya dunia nyata, dunia maya pun punya penghuni yaitu berbagai data dan informasi serta berbagai benda yang secara fisik tidak ada namun memiliki status dan identitas tertentu.

Namun penghuni dunia maya terus bertambah setiap saat dan tidak mengenal batas. Etika yang dikenal di sini pun adalah seakan “ethical zero” alias tiada etika. Orang bebas memilih, disini kebajikan dan kebatilan berjalan secara beriringan. Situs-situs keagamaan bertebaran berdampingan dengan situs-situs kemaksiatan (seperti pornografi).2 Bahkan dalam perkembangannya, internet tidak lagi hanya digunakan untuk mencari data atau informasi yang dibutuhkan, namun bisa juga digunakan sebagai sarana untuk menghancurkan kekuatan musuh.

Sementara itu kehadiran internet sudah tidak bisa dicegah lagi, karena telah menjadi suatu peradaban baru dalam dunia informasi dan komunikasi tingkat global. Bahkan sebagian ahli mengungkapkan bahwa internet sudah menjadi bagian dari infrastruktur pembangunan di segala bidang, sehingga pada jaman maju ini, bilamana seseorang tidak bisa ber”internet” dan tidak menguasai bahasa Inggris bagaikan orang yang buta huruf. Hal inilah yang menempatkan internet bagaikan sebilah pisau yang sangat bermanfaat, sekaligus juga membahayakan si pemakai jika memakainya secara salah.

Timbullah sebuah pertanyaan, dijauhi ataukah dimanfaatkan? Mengingat internet hanyalah sebuah sarana/media, maka ketika pemikiran kita berangkat dari pemikiran yang positif, seyogjanya kita berlomba-lomba mengisi sebanyak-banyaknya “content” positif dalam sarana internet, sebagai perimbangan terhadap “content” negatif yang tidak mungkin dicegah lagi. “Content” positif inilah yang lebih spesifik dalam dunia Islam dikenal sebagai Dakwah.

Dengan demikian, makalah ini berangkat dengan pemahaman dasar Internet itu adalah sarana/medianya, sedangkan Dakwah adalah contentnya (muatannya).


PEMAHAMAN DASAR

Dakwah pada hakikatnya adalah sebuah komunikasi antar beberapa orang bahkan banyak orang. Ukuran keberhasilan sebuah komunikasi yaitu apabila komunikasinya berjalan dengan menyenangkan bagi kedua belah pihak. Dengan dasar itu dakwah sebagai bagian dari komunikasi harus ber-etika agar dapat menyenangkan, menyejukan dan memberikan kenyamanan (Confortable).

Pengertian dasar dari istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:


1. Dakwah

Mengajak orang lain untuk mengikuti apa yang diserukannya yaitu mengajak kepada peningkatan ibadah dan pengabdian pada sang khaliq (dalam arti luas). Dalam kamus bahasa Indonesia misalnya, kata dakwah diartikan antara lain propaganda yang mempunyai konotasi positif dan dan negatif. Sementara dakwah dalam istilah agama Islam konotasinya selalu tunggal dan positif.

2. Etika

Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk atau ilmu tentang hak dan kewajiban moral. Sebagian juga memberikan pengertian sebagai “kebajikan praktis.” Internet sebagai sarana/media dan dakwah sebagai content (muatannya), masing-masing sebenarnya mempunyai etika/kode etik tersendiri. Ketika kedua digabung menjadi Dakwah pada internet, maka tentunya akan ada perbedaan etika dibandingkan dengan dakwah secara lesan yang langsung berhadapan dengan “audience”nya.

Akan tetapi karena fungsinya yang berbeda, maka pada makalah ini tetap dipisahkan antara etika berinternet dan etika dakwah dengan tetap pada tema dasarnya yaitu Etika Dakwah dalam Internet.


ETIKA DAKWAH

Fasilitas internet yang seringkali digunakan sebagai sarana dakwah adalah chatting, mailing list atau e-mail, tele-conference (Net-meetting dll) dan penyaluran informasi melalui website. Banyak kelebihan yang bisa didapatkan jika dakwah dilakukan melalui media internet, terutama yang berbasis pada tulisan (mailing list atau e-mail dan penyaluran informasi melalui web-site). Diantaranya adalah;

• Lebih cepat (real time)

• Lebih luas sebarannya (Borderless)

• Dapat diakses tanpa batas (unlimited access), pada saat kapanpun dan kondisi bagaimanapun.

• Tidak pernah dimatikan (never turn-off)

• Lebih lama penyimpanannya

• Relatif murah

Sehingga internet merupakan media yang sangat potensial untuk digarap khusus sebagai media dakwah. Potensi ini bisa juga ditunjukkan dengan ilustrasi sebagai berikut; Kalau sebuah ceramah tatap muka biasa dihadiri oleh seribu, dua ribu atau yang cukup besar lima ribu pendengar maka dengan internet isi ceramah itu bisa dinikmati oleh ratusan ribu bahkan jutaan pembaca. Saat ini pun dakwah dalam bentuk rekaman suara sudah dapat dinikmati via internet.

Syaratnya harus bisa mengatasi keterbatasannya media internet dan memperhatikan etika penggunaan dan penyampaiannya, baik etika penggunaan medianya (internet) maupun etika dakwahnya.

Membahas masalah etika dakwah bukan masalah sepele atau singkat. Tapi ada semacam kesepakatan bahwa karena pembahasan ini pada dakwah Islam, maka semua acuan dikembalikan kepada teladan tunggal yang ditetapkan Allah dan RasulNya untuk dijadikan rujukan.

Berdasarkan itulah, ada beberapa prinsip yang harus dijadikan acuan etika dalam berdakwah;

1. Memahami hakikat dakwah dan apa yang diajarkan dengan landasan ilmu yang benar.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ * النحل ١٢٥

Dalam tafsirnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hikmah dan mau-idhatil hasanah adalah ilmu sebelum berdakwah (dengan hikmah), berbelas kasih saat berdakwah (cara yang baik), dan bersikap arif setelah berdakwah (memberi pengertian dan argumentasi yang baik dan bukannya cacian).


2. Berbekal diri dengan Ilmu

Dakwah yang benar mesti berawal dari ilmu. Berdakwah tanpa ilmu merupakan Dakwah diatas kejahilan/kebodohan. Dan dakwah diatas kebodohan lebih cenderung merusak daripada membangun. Ia akan sesat dan menyesatkan orang lain. Hal tersebut bertentangan dengan dakwahnya para rasul. Allah berfirman tentang dakwah rasul:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ٭سورة يوسف ١٠٨

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata); Maha Suci Allah; dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf : 108)


3. Tidak menyampaikan hal-hal yang tidak diketahuinya

Karena ajaran Islam banyak mengandung hukum terkait halal & haram dsb, maka jika menyampaikan suatu hukum sementara ia tidak mengetahui hukum itu pastilah ia akan menyesatkan orang lain. Juga tidak boleh menjawab hanya didasarkan pada seleranya semata.


4. Tidak memaksakan kehendak. Hal ini mengingat ketetapan Allah dalam banyak ayat Al-

Quran surat Yunus ayat 99,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ ٭ سورة يونس ٩٩

“ dan jikalau Tuhanmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya.”


5. Gunakan bahasa yang mudah difahami dan tidak berbelit dan hindari singkatan kata yang tidak lazim yang bisa menimbulkan salah penafsiran.


6. Jangan mempersulit masalah dan mengedepankan kemudahan. Hal ini ditetapkan Allah dalam firmannya di surah Al-Baqarah ayat 185,

... يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ... الأية ٭ سورة البقرة ١٨٥

“.... Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagimu....”


7. Harus konsisten antara ucapan dan perbuatan

Ada ancaman siksa jika ucapan tidak sesuai dengan prilakunya/perbuatannya, dalam surah Asshof ayat 3;

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ٭ سورة الصف ٣

“Besar siksanya jika kamu sekalian mengatakan pada sesuatu yang tidak kalian kerjakan”

Selain itu seseorang akan jatuh jika diketahui adanya ketidaksesuaian antara perbuatan dan ucapannya / seruannya.


8. Tidak menyampur-adukkan masalah aqidah agama

Toleransi memang dianjurkan oleh Islam tetapi dalam batas-batas tertentu dan tidak menyangkut masalah agama atau aqidah.


9. Tidak mencela orang lain atau tokoh lainnya.

Dakwah pada hakikatnya adalah mengajak pada kebaikan bukan untuk menimbulkan permusuhan baru maupun provokasi. Apa yang disampaikan pada internet akan merupakan fakta yang bisa dibaca oleh siapapun termasuk orang yang dicelanya.


10. Tidak mencaci maki atau mencerca

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ٭ سورة الأنعام ١٠٨

“Dan janganlah kamu mencaci-maki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka…”(Surat Al-An’am: 108)


11. Tidak melakukan diskriminasi/merendahkan

Diskriminasi bisa menimbulkan antipati pada orang yang merasa diremehkan, sementara belum tentu mendapatkan simpati dari orang yang dimulyakan. Bahkan dicontohkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat ‘Abasa ayat 1 s/d 11.


12. Ikhlas dan tidak meminta imbalan duniawi

Orientasi pada imbalan duniawi justru akan merendahkan nilai-nilai luhur dakwah itu sendiri dan menurunkan kredibilitas da’inya, sehingga sulit untuk menumbuhkan ketaqwaan yang kuat pada orang lain. Sementara itu keikhlasan justru akan mendatangkan pertolongan dari Allah.


13. Bersabar

Dalam ini bersabar pada dua hal; yaitu sabar untuk tidak tepancing emosinya dan sabar dalam hal waktu karena dakwah seringkali tidak cukup dilakukan sekali atau dua kali, tetapi bisa jadi harus dilakukan berkali-kali.


14. Hindari sifat Ujub

Sifat ujub dengan banyak memuji diri sendiri akan membuat lengah diri sendiri dan menimbulkan antipati dari lawan komunikasinya. Tapi sampaikan segala sesuatu dengan proporsional.

Banyak referensi yang menerangkan tentang etika berdakwah secara umum, tetapi empat belas poin diatas hanyalah sebagian etika yang bisa disampaikan pada tulisan ini yang dikaitkan dengan keberadaan Internet sebagai sarana dakwah.


ETIKA BERINTERNET

Walaupun sementara orang ada yang berpendapat bahwa di dunia maya/internet adalah “ethical zero”, tapi itu sebenarnya tidaklah sepenuhnya benar. Sesungguhnya tidak ada kebebasan mutlak di dunia ini. Sekalipun ini adalah dunia tanpa batas seperti internet. Namun seperti halnya interaksi dalam dunia nyata, begitu kita bersinggungan dengan orang lain maka sudah pasti ada aturan main, adab ataupun etika yang harus dipatuhi, apalagi ketika “content” yang diatasnya adalah tentang dakwah yang memuat nilai-nilai moral agama. Etika dalam

berinternet ini seringkali dikenal sebagai "netiket" atau nettiquette.

Netiket diperlukan karena sebagai sarana komunikasi, internet tetap juga mempunyai keterbatasan yang apabila tidak difahami justru akan menimbulkan hasil yang tidak diinginkan. Keterbatasan tersebut adalah;

1. Tidak bertatap muka sehingga

• Kita tidak tahu kondisi emosi lawan interaktif,

• Kita tidak tahu karakter lawan interaktif,

• Kita bisa dengan tidak sengaja menyinggung perasaan seseorang.


2. Tidak ada bahasa tubuh (mimik muka, penampilan, nada suara) yang dalam komunikasitatap muka seringkali mempermudah memahami keinginan lawan bicaranya.


3. Penyampaian bahasa tulisan seringkali menimbulkan kerawanan terjadinya salah penafsiran/persepsi (misunderstanding).

Dengan demikian mengolah kalimat, tanpa keahlian berkomunikasi memungkinkan adanya hambatan menyampaikan isi pikiran ke dalam kata-kata. Memahami kelemahan-kelemahan tersebut, maka komunikasi/dakwah yang dilakukan melalui internet harus diupayakan meminimalkan terjadinya friksi dan supaya tidak mudah timbul salah persepsi, yaitu dengan memenuhi etika-etika sebagai berikut;

1. Identitas anda harus jelas

Menyembunyikan identitas bisa diartikan sebagai menyembunyikan maksud-maksud terselubung dan mengesankan ketidakjujuran. Dalam konteks dakwah, mengingat dakwah seringkali tidak cukup dilakukan dengan sekali komunikasi, maka menyembunyikan identitas juga akan menghambat komunikasi lanjutan dengan lawan

bicaranya.


2. Jagalah kehormatan diri anda di Internet sebagaimana anda menjaganya dalam kehidupan nyata. Jangan hanya karena anda merasa tidak dikenali lalu berlaku kasar atau tidak pantas.


3. Ingatlah bahwa di Internet Anda berhubungan dengan manusia, bukan cuma komputer. Maka perlakukanlah lawan komunikasi anda sebagaimana layaknya manusia.


4. Untuk sebuah komunikasi lanjutan dan terbatas, cobalah mengenali lawan komunikasi anda, mulai dari status sosial, umur dll, sehingga anda bisa menggunakan bahasa dan ungkapan pyang sesuai dengan kondisi lawan komunikasi anda.


5. Hindari yang melanggar hokum

Hukum tidak hanya berlaku di dunia nyata, tapi juga berlaku di dunia maya, maka berlakulah wajar sebagaimana di dunia nyata.


6. Hormatilah privasi orang lain dengan tidak menyebarkan data orang lain tanpa seijin dari pemiliknya.


7. Manfaatkanlah group diskusi sesuai dengan kesepakatan terbentuknya group tersebut.

Jangan memanfaatkan untuk kepentingan lainnya apalagi bersifat pribadi seperti bisnis. Kepentingan pribadi haruslah dilewatkan jalur pribadi.


8. Jangan Gunakan Huruf Kapital

Karena penggunaan karakter huruf bisa dianalogikan dengan suasana hati si penulis. Huruf kapital mencerminkan kemarahan atau berteriak. Walau begitu, ada kalanya huruf kapital dapat digunakan untuk memberi penegasan maksud. Tapi yang harus dicatat, gunakanlah penegasan maksud ini secukupnya saja, satu-dua kata dan jangan sampai seluruh kalimat/paragraf.


9. Jangan melakukan spamming (berita berantai)

Spamming biasanya selalu terkait dengan motivasi ekonomi. Selain hal ini bisa memakan memori user pemakai dan menimbulkan ketidaknyamanan, juga akan mengaburkan misi dakwah.


10. Jangan mengirimkan file yang mengandung virus (File bersih)


11. Hindari mengirim gambar dan file-file lainnya berukuran besar secara berlebihan tanpa seijin dari lawan komunikasinya. Walaupun isinya bagus tapi jika mempersulit justru menjadi kontra produktif.


12. Dalam hal komunikasi melalui email, manfaatkan BCC (Blind Carbon Copy) dan jangan semuanya dibuat CC (Carbon Copy). Karena tidak semua orang senang jika email addressnya disebarkan pada orang lain.


13. Teliti ulang sebelum mengirimkan berita/email dan jangan hanya banyak mengutip Seringkali kali dalam membalas email, terutama dalam group mail list, kita tidak meneliti ulang dan tidak melakukan editing pada email yang di”reply” atau di”forward”. Sehingga kadang kelewat panjang dan isinya belum tentu sesuai dengan mail list yang bersangkutan. Apalagi tidak semua berita dalam internet adalah benar, maka perlu adanya kontrol ulang yang teliti.


14. Ketika harus menyimpang dari topik, khusus pada komunikasi email, maka gunakanlah tanda misalnya [OOT] yang artinya Out Of Topic, sehingga orang lain tidak merasa terkecoh dengan email kita.


15. Hampir setiap hari selalu ada yang baru dalam dunia internet dan setiap hari juga ada pendatang baru pada dunia internet, maka perlakukanlah lawan komunikasi anda dengan cara-cara yang simple terlebih dahulu sebelum anda yakin betul kemampuan mereka.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Berbicaralah kepada manusia menurut kadar

kecerdasan mereka.” (HR. Muslim)

Sebagaimana pada Etika Dakwah, banyak hal sebetulnya yang harus diperhatikan sebagai etika berinternet. Akan tetapi jika dikaitkan dengan kepentingan dakwah, lima belas poin di atas dapat dijadikan referensi untuk memanfaatkan dunia maya ini sebagai sarana berdakwah.


PENUTUP

Materi etika dakwah dan etika berinternet sengaja ditulis pada bagian yang terpisah, hal ini dimaksudkan untuk lebih mudahnya difahami bahwa dakwah adalah “content”nya sedang internet adalah sarana atau medianya. Akan tetapi juga telah dipilih dan dipilah sedemikian rupa sehingga penggabungan keduanya merupakan etika dalam berdakwah di dunia maya/internet.

Semoga tulisan ini bermanfaat

Rabu, 21 Januari 2009

Saya Meneteskan Air Mata atas Perlakuan Mereka

K.H. Qaimoeddien Thamsy, SH. - Tokoh Ulama dan Pengurus Pusat Syarikat Islam Indonesia, Tokoh Islam Indonesia Timur, Ketua MUI Jakarta Pusat

Perkenalan saya dengan LDII belum terbilang lama, tetapi sebelumnya saya mengenal betul Islam Jama’ah. Mulai dari awal kelahirannya, bahkan sampai mengetahui dan mengenal jama’ah LDII. Saya pernah terkontaminasi dan terpengaruh dengan ajaran Islam Jama’ah. Bahkan, saya pernah masuk di dalamnya dan mendakwahkan Islam Jama’ah sewaktu masih muda, sekitar tahun 1960-an di Malang, Jawa Timur.

Pada mulanya Islam Jama’ah bernama Darul Hadits. Saya memahami betul masalah itu, dan Saya pun dikenal dengan baik oleh kalangan Islam Jama’ah. Sewaktu adik saya masuk Islam Jama’ah, ia marah habis-habisan, karena kelompok ini dipandang oleh masyarakat luas sebagai aliran sesat. Adik saya adalah seorang anggota TNI Angkatan Laut di Surabaya, dan atasannya adalah R.E. Martadinata, seorang tokoh Islam Jama’ah yang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut. Dengan menggunakan pengaruhnya, ia mengajak anak buahnya untuk masuk Islam Jama’ah, di antaranya adik saya.

Pada tahun 1967, saya pergi ke Jakarta. Oleh adik saya, saya dibekali surat supaya bisa masuk ke Tawakkal (nama sebuah jalan di Jakarta tempat Islam Jama’ah berpusat). Saya masuk ke sana dan sempat memberikan ceramah-ceramah. Saya sempat ikut pengajian-pengajian di sana. Wah sesat juga, komentar saya waktu itu. Pada awalnya, saya sempat diterima, tetapi masih dicurigai juga. Akhirnya, saya terdepak dan mulai saat itu berhadapan langsung vis a vis dengan mereka.

Mulai saat itu, di Jakarta sudah berkembang pertama di Tawakkal. Saya tahu betul, dan saya kembali ke Surabaya. Saya suruh adik saya keluar karena beberapa ajarannya, seperti masalah nikah, masalah jenazah, masalah orang tua, bahaya sekali. Dan manqulnya itu jelas. Pokoknya yang aneh-aneh. Sebagai orang muda, pada waktu itu saya umur 26 tahun, saya dilarang oleh Bapak K.H. Dalai Umar, tokoh ulama pada waktu itu.

Pada tahun 1990, atas dasar pidato pengarahan Rudini selaku Menteri Dalam Negeri, dan Sudharmono SH selaku Wakil Presiden LEMKARI mengubah namanya menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dikarenakan nama LEMKARI memiliki kesamaan singkatan dengan Lembaga Karatedo Indonesia. Kedua arahan pejabat pemerintah tersebut dan masukan baik pada sidang-sidang komisi maupun sidang paripurna dalam Musyawarah Besar IV LEMKARI tahun 1990, selanjutnya perubahan nama tersebut ditetapkan dalam Keputusan MUBES IV LEMKARI No. VI/MUBES-IV/LEMKARI/1990, Pasal 3 yaitu mengubah nama organisasi dari Lembaga Karyawan Dakwah Islam yang disingkat LEMKARI menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia yang disingkat LDII.

Pada waktu mereka ingin bertemu Bapak Fauzi Bowo (waktu masih menjadi Wagub) karena mereka akan mengadakan Rakerda waktu itu, lantas Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang dan Linmas) mengundang saya. Saya selaku pribadi datang kesana. ”Ini apa-apaan. LDII itu jelas kotor.” Saya bilang kepada Bapak Fauzi Bowo, ”jangan datang.”

Kemudian saya diundang ceramah di masjid mereka dengan Camat setempat. Sewaktu ceramah saya bilang, setelah saya pergi dari sini (tempat duduk saya dengan Bapak Camat) dibersihkan, nanti akan berhadapan dengan saya. Lalu mereka ketawa ha ha ha. Karena mereka itu belum tahu Islam Jama’ah tahun 1960-an, termasuk Gunawan dkk dan pengurus Masjid. Saya minta kalau memang betul-betul berubah, buktikan.

Saya katakan kepada mereka, apakah bisa jadwal ceramah/khutbah di masjid kalian, kita barter? sehingga kita bisa ceramah/khutbah di masjid LDII. Saya tunggu, dan itu mereka lakukan. Bukan hanya saya yang memberikan ceramah, tetapi Saudara Mabrur Abduh dan Arif juga memberikan ceramah di kalangan LDII Jakarta Utara.

Mencuci Masjid waktu Islam Jama’ah pernah saya lihat, tetapi di LDII sama sekali tidak. Orang kan semuanya terbius dengan pengalaman masa lalu. Selama sudah merubah paradigmanya, saya pernah tunjuk mereka, mana buktinya, mereka bohong. Saya pernah ketemu dengan Bambang Irawan. Sebenarnya mereka cuma dengar-dengar, cerita-cerita pengalaman masa lalu, karena mereka tidak pernah terjun langsung. Saya tidak percaya jadinya. Banyak muballigh-muballigh yang mengekspose hal-hal yang ”katanya dan katanya.” Seharusnya mereka terjun langsung, ia buktikan, ia cari di mana sumbernya. Saya pernah marah dengan Pak Ardani dan Pak Hamdan (Pengurus MUI Jakarta) dengan ungkapannya, tetapi saya minta untuk membuktikan, bukan katanya. Jangan sampai jadi fitnah. Ini pengalaman masa lalu. Kasihan mereka, sekarang sudah ada perubahan paradigma.

Saya beri contoh begini. Pernah mereka (orang LDII) ke rumah. Istri saya itu kan trauma, karena pada tahun 1970-an saya punya pengajian di Grogol, kemudian masuklah Islam Jama’ah ini, lalu mereka terbawa sakit hati kita. Banyak anak kita yang masuk ke sana, lalu dia katai habis-habisan kepada tokoh LDII, waktu mereka datang ke rumah. Mereka mengatakan, ”Begitu ya Bu bahwa LDII itu begitu-begini… Bukan begitu ajaran LDII Bu… Kalau seperti itu, kami akan keluar sama sekali, tidak ada Pak Thamsy, tidak ada seperti yang Ibu katakan tadi. Masalah Islam Jama’ah kami tidak tahu, mengkafirkan orang, kawin tidak sah karena dinikahi begitu saja, masalah tobat pencucian dosa, dan sebagainya, itu tidak ada” Saya sering berhubungan dengan orang LDII, bahkan di rumah saya mereka sering datang.

Kesan saya terhadap LDII sangat luar biasa. Ukhuwah ada di LDII dan saya tidak muja-muji luar biasa tentang kedisiplinan, rokok diharamkannya, salaman dengan perempuan yang bukan muhrim tidak diperbolehkan. Hebat! Mereka kalau memuliakan tamu memang luar biasa. Saya kan pernah ke Batam. Luar biasa mereka memuliakan tamu. Sampai saya meneteskan air mata atas perlakuan mereka kepada kami berempat. <50%>

Sumber: http://afternewparadigm.blogspot.com

Rabu, 08 Oktober 2008

Tiga tipe manusia berdasarkan aktifitasnya.

_______________________________________


ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ ٭ فاطر ٣٢

Kemudian aku wariskan kitab kepada orang2 yang telah aku pilih dari hambaku, maka sebagian dari mereka orang yang aniaya pada dirinya dan sebagian dari mereka orang yang sedang dan sebagian dari mereka orang yang bercepat pada kebaikan dengan idzin Alloh. Demikian itu keuntungan yang besar.


Berdasarkan latar belakang penggerak aktifitas/pengamalannya; manusia dapat digolongkan menjadi tiga (3) tipe mental yaitu: Tipe mental Pejuang, Tipe mental Pekerja, dan Tipe mental Penjahat.

1. Tipe mental Pejuang.

Tipe mental Pejuang adalah orang yang bekerja, beraktifitas/beramal/ berjuang dengan dedikasi tinggi terbaiknya untuk tujuan menghasilkan sesu-atu yang terbaik, terbenar, dan termanfaat. Bagi seorang Pejuang ada atau tidaknya imbalan tak menjadi persoalan, yang penting ia bisa dan biasa mela-kukan yang terbaik, terbenar, teradil, teraman, termanfaat untuk kemaslahatan (kesejahteraan, kepentingan, dan keselamatan) diri dan umat seluas-luasnya.

Perjalanan waktu telah membuktikan bahwa orang-orang yang namanya harum hingga sekarang adalah para Pejuang Kebenaran. Apa sebabnya? Kare-na mereka lebih banyak memberi daripada mendapatkan; lebih banyak berkor-ban daripada mengorbankan; lebih banyak bekerja daripada berbicara; serta lebih banyak berkarya nyata daripada berkhayal nyata.

Untuk saat sekarang dan mendatang; bangsa kita umumnya dan Agama khususnya sangat memerlukan banyak Pemimpin yang terdiri dari orang-orang yang bermental dan mampu menjadi Pejuang sejati; daripada Pemimpin yang bermental sebagai Pekerja.

Salah satu ciri melekat seorang Pemimpin Pejuang adalah kepemilikan watak/karakter Perwira berjiwa Ksatria sejati yang mulia; siap setiap saat, jujur mengakui kebenaran dan tulus mengakui kesalahan dihadapan umum; sekali-pun saja tak akan pernah melakukan keculasan/pengkhianatan dengan cara cuci tangan - mencari kambing hitam/mengorbankan pihak lain/bawahannya tatkala ia terbukti berbuat kesalahan à fastabiqul khoirot !

2. Tipe mental Pekerja.

Tipe mental Pekerja adalah orang yang hanya mau melakukan sesuatu karena disuruh/diperintah atau karena mengharapkan imbalan dan keuntungan langsung. Ia akan berhenti beraktifitas apabila tidak ada lagi imbalan yang bisa didapat!. Pekerja hanyalah orang-orang yang mau bergerak apabila ada keun-tungan langsung yang bisa diperoleh, dan hanya bergerak apabila disuruh; pasif; kurang peduli, dan terkesan tak ada inisiatif sama sekali! à muqtasid !

3. Tipe mental Penjahat.

Tipe mental Penjahat adalah tipe orang yang hanya bekerja untuk keun-tungan diri dan kelompoknya (/komplotannya) sendiri. Tak menjadi soal apa-kah sikap perilaku dan tindakan yang ia lakukan dengan menghalalkan semua cara, memberatkan, menyesengsarakan, merugikan, mengorbankan orang lain yang penting dan baku; asal kepentingan diri dan kelompoknya terpenuhi à puaslah dia !. Melakukan berbagai trik culas, licik, serakah, mau menang sendiri, suka menjatuhkan martabat orang lain; adalah gaya kepiawaiannya! à dholimu li nafsihi !


Kita selaku orang iman sejati perlu dan harus berdedikasi tinggi dalam me-nempuh hidup sekali ini. Orang yang berdedikasi tinggi akan senantiasa berupaya mencari dunia dengan cara yang baik dan benar, serta akan menggunakan/me-ngeluarkannya dengan cara dan pertimbangan yang baik, benar serta demi kepen-tingan/kemaslahatan umat pula !. Salah satu caranya adalah dengan senantiasa berupaya untuk mampu berpikir, bekerja keras dan berkarya besar !.

Setiap kali ada momentum Hari Kemerdekaan, seharusnya mampu mem-bangkitkan kembali semangat juang kita; berjuang untuk melakukan perubahan lebih serius kedepan untuk kemajuan dan kebaikan masyarakat/umat dengan cara mentransformasikan (memindah-alihkan) potensi - kemampuan - keahlian kita un-tuk kemanfaatan yang seluas-luasnya, dan selalu berupaya mencari solusi cerdas beserta alternatifnya atas setiap masalah yang ada dan terjadi di lingkungannya, serta senantiasa berusaha membawa keselamatan dan kedamaian bagi lingkung-an sekitar. Dengan lain kata; ikhlas berbuat semata-mata bukan untuk mendapat-kan, tetapi berbuat ikhlas semata-mata untuk mencipta, menghasilkan, memberi, menebarkan kebaikan, kebenaran, dan kemanfaatan yang sebanyak-banyaknya serta seluas-luasnya; berupaya sedapat mungkin menjadi karya besar yang monu-mental !.

Semoga Alloh paring barokah dan manfaat !!!


_____________________________________________________________________________________

Selasa, 07 Oktober 2008

UKHUWAH MERAJUT YANG BERSERAKAN ( Oleh: Herry Mohammad Redaktur Pelaksana Majalah GATRA )


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ٭ الحجرات ١٠

Sesungguhnya, orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat

(QS Al-Hujurat: 10)


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ٭ الحجرات ١٣

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu (QS Al-Hujurat: 13)


UKHUWAH (persaudaraan). Kata ini mudah diucap, tapi, untuk mempraktekkannya tak semudah mengeluarkan kata-kata. Dalam pandangan ulama DR. Abdullah Nashih Ulwan, ukhuwwah Islamiyah adalah karunia Allah, sifat yang menyatu dengan iman dan taqwa. Dengan adanya ukhuwah, maka ia akan memberi pengaruh positif kepada kehidupan bermasyarakat.

Persaudaraan akan memperkuat umat dan bangsa, sedangkan perpecahan justru memperlemah di semua level kemasyarakatan. Karena itu, Allah memerintahkan kita untuk selalu berpegang pada persaudaraan berdasarkan aqidah, “Dan berpeganglah kamu pada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran: 103). Inilah yang disebut ukhuwah Islamiyah berdimensi iman. Maka, iman seseorang tidak akan sempurna tanpa dilandasi dengan ukhuwah, dan sebaliknya, ukhuwah tidak ada artinya tanpa berdasarkan keimanan. Dengan iman, menuju kepada ketaqwaan.

Dengan mengacu pada surah Al-Hujurat ayat 10, maka ukhuwah akan terwujud secara kokoh bila dilandasi dengan iman. Maksud ayat, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara,” menurut Ibnu Katsir, “Seluruh kaum muslimin merupakan satu saudara karena agama.” Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh menzhalimi dan membiarkannya (dizhalimi).” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Abu Daud, dan Imam Ahmad)

Secara personal, hubungan antara seorang mukmin dengan orang-orang beriman lainnya bagaikan kepala dengan anggota tubuh, sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi SAW, “Sesungguhnya (hubungan) orang mukmin dengan orang-orang yang beriman adalah seperti (hubungan) kepala dengan seluruh anggota tubuhnya. Seorang mukmin akan merasa sakit karena orang mukmin lainnya, sebagaimana badan akan merasa sakit karena sakit pada bagian kepala.” (HR. Imam Ahmad)

Tentang lanjutan ayat, “Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat,” menurut Ibnu Katsir, “Hal tersebut merupakan penegasan dari Allah Ta’ala, dimana Dia akan memberikan rahmat kepada orang yang bertaqwa kepada-Nya.” Dalam konteks ayat ini, yang dimaksud dengan orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang selalu mendamaikan dua golongan, baik perorangan maupun kelompok, yang saling bertikai. Di sini, tentu saja, diperlukan orang ketiga sebagai pendamai.

Adapun puncak dari keimanan adalah ketaqwaan. Dan ketaqwaan seseorang bisa dilihat, antara lain, tidak mengusung konsep asobiyah (berdasarkan etnis,sosial politik, dan kesukuan) sebagai acuan, sebagaimana tersebut dalam ayat 13 surah Al-Hujurat, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.”

Adalah Imam Muslim dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian.” Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan, “Lihatlah, sesungguhnya engkau tidaklah lebih baik dari (orang kulit) merah dan hitam, kecuali jika engkau melebihkan diri dengan ketaqwaan kepada Allah.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan, bahwa suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling baik itu?” Rasul menjawab, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik bacaan (al-Quran)-nya, paling taqwa kepada Allah, gigih menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan paling giat menyambung tali silaturahim.”

Dengan pemaparan ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut di atas, sampailah kita kepada kesimpulan: sepanjang punya keimanan yang dilandasi dengan ketaqwaan, maka ukhuwah akan bisa diwujudkan. Persoalan akan muncul ketika ‘gelombangnya’ tidak sama. Ini antara lain karena adanya faktor keimanan dan ketaqwaan yang tak lagi dijadikan landasan. Dalam realitasnya, faktor “keormasan” yang sebetulnya adalah sarana untuk berhimpun, telah berubah wujud menjadi asobiyah baru. Muncul akuisme, “Ajaranku lebih bagus dari ajaranmu”, maka kita akan terjebak pada akuisme yang pernah diusung oleh iblis. Ya, ketika iblis menolak sujud kepada Adam. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: ‘Bersujudlah kamu kepada Adam’, maka mereka pun bersujud, kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah’.” (QS. Al A’raaf: 11-12)

Sifat menonjolkan diri sendiri ini jelas akan merusak ukhuwah. Jadi, ukhuwah akan bisa langgeng jika satu sama lain setara, tidak ada yang merasa lebih unggul dari yang lain. Dan kesetaraan itu akan muncul jika masing-masing pihak bisa mengendalikan egonya, tidak menganggap diri atau kelompoknya “lebih” dari yang lain. Egoisme akan terkikis dengan sendirinya bila dasarnya adalah iman dan taqwa.

Karena itu, sebenarnya, sejauh iman dan aqidahnya benar, tidak ada alasan bagi ormas-ormas atau majelis-majelis taklim untuk tidak menjalin silaturahim. Persoalannya, adalah, sejauhmana institusi-institusi ke-Islam—an tersebut telah berbuat maksimal untuk menjalin ukhuwah? Bukankah institusi adalah sarana, bukan tujuan?

Peran Media

Tak bisa dipungkiri, dalam kenyataannya, institusi yang didirikan oleh umat Islam punya ke-aku-annya masing-masing. Sejauh tidak keluar dari koridor keimanan dan ketaqwaan, tentu masih bisa ditolelir. Tapi, kalau sudah keluar dari keimanan dan ketaqwaan, persoalannya memang perlu dicarikan solusinya dulu.

Benturan antar komunitas umumnya terjadi ketika suatu kelompok dianggap atau dituduh telah menyimpang dari aqidah ajaran induk. Di sini kita perlu hati-hati, jika perbedaan itu hanya menyangkut “cabang”, ini adalah keragamaan yang mesti diambil hikmahnya. Tapi, bila menyangkut aqidah, tentu perlu dilakukan dialog-dialog guna mengembalikan kepada ajaran yang benar. Untuk mengembalikan kepada ajaran yang benar tersebut, rujukannya mesti sama: Al-Quran dan Hadits Nabi SAW. Di sini, ke-ego-an mesti dieliminir. Bila ternyata ajaran yang dikembangkan dan didakwahkan itu tidak benar menurut Al-Quran dan Hadits, perlu berlapang hati untuk tidak mengembangkannya.


Lalu, dimana peran media dalam hal ukhuwah Islamiyah? Media, apa pun bentuknya (koran, tabloid, majalah, televisi, serta radio), pada dasarnya adalah alat untuk memajukan umat dan bangsa. Dengan demikian, maka apa yang disuguhkan kepada para pembaca, pendengar maupun pemirsa, adalah suguhan yang bernuansa tarbiyah dan dakwah. Ini yang semestinya. Kenyataannya, tidak selalu demikian.

Berita, begitu pendapat sebagian jurnalis, adalah sesuatu yang bengkok atau karena ada kasus. Jika informasinya lurus-lurus saja, menurut faham ini, itu bukan berita. Rasa keingintahuan masyarakat diberi ruang yang lebar. Persoalannya, apakah “berita adalah berita” atau “berita mengemban misi”?

Dalam hal ukhuwah Islamiyah, sudah semestinya media punya peran sebagai perekat. Mesti tetap mengemukakan unsur “beritanya” agar tidak ketinggalan konteks, bila ada sesuatu yang dianggap bengkok atau ada kasus, idealnya media ikut memberi solusinya. Dan, dalam penyajiannya pun hendaknya memperhatikan prinsip tabayyun secara ketat. Dengan demikian, kehadiran pers bukan membuat atau memperuncing masalah, tapi berperan secara aktif merajut ukhuwah yang (mungkin) masih berserakan.

Wallahu A’lam.

*Disampaikan pada Diskusi Panel “Peran Media Dalam Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah” dalam rangka Rapat Kerja Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia, 6-8 Maret 2007 di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta

_____________________________________________________________________________________